Teknologi dan Pemberantasan Kemiskinan
Mata kuliah : Ilmu Sosial Dasar
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga
aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik
kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak,
sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih
mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini ( masyarakat desa dan masyarakat kota ) sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami dilain waktu.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini ( masyarakat desa dan masyarakat kota ) sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.
Depok, Januari 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...............................................................................................
Daftar Isi
BAB I. Pendahuluan......................................................................................
Latar Belakang...............................................................................................
Rumusan Masalah..........................................................................................
Tujuan.............................................................................................................
Manfaat...........................................................................................................
Ruang Lingkup...............................................................................................
BAB II. Metode Penulisan.............................................................................
BAB III. Analisis Permasalahan...................................................................
Kesimpulan dan Saran..................................................................................
Daftar Pustaka................................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuhan kebutuhan dasar,
ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Dalam pendidikan,
kemiskinan mempengaruhi kemampuan murid untuk belajar secara efektif dalam
sebuah lingkungan belajar.
“Dua
ibu rumah tangga masing – masing memiliki anggaran Rp 15.000 dan Rp 20.000
untuk berbelanja ke pasar, sementara ada seorang politisi yang mampu membeli
buku hingga jutaan rupiah per bulan”. Ini adalah sepenggal kalimat yang saya
baca di sebuah berita on-line yang merupakan tema sentral dalam perjuangan
bangsa.
Ilmu pengetahuan teknologi dan
kemiskinan merupakan permasalahan yang menunjukkan perbedaan. Ilmu dan
pengetahuan adalah dua hal berbeda namun memiliki persamaan, yaitu pemahaman.
Semua ini tertuju untuk mengembangkan ilmu pengetahuan guna membasmi
kemiskinan. Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang dapat
menyongsong masa depan cerah. Karena dengan teknologi kehidupan manusia semakin
lebih mudah yang mempunyai dampak sosial yang mendunia.
Tingkat kemiskinan terus saja
meningkat di tiap tahunnya, pemerintah pun tak membiarkan hal ini terus
berlanjut. Berbagai upaya telah dilakukan, namun kesadaran yang dimiliki
manusia masih minim. Oleh karena itu lewat Ilmu Pengetahuan Teknologi saya akan
memaparkan menumbuhkan kesadaran manusia. Karena peran Teknologi sangat berpengaruh terhadap hidup manusia,
maka sangat besar kesempatan yang saya lakukan.
B.
Perumusan Masalah
Pada
tugas individu ini, saya membahas mengenai masalah Ilmu Pengetahuan Teknologi
dan Kemiskinan, didapatkan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penulisan
ilmiah ini. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
“Peran
Teknologi Dalam Menumbuhkan Kesadaran Mengentaskan Kemiskinan”.
C.
Tujuan
Adapun
tujuan dibuatnya makalah yang membahas tentang “Peran Teknologi Dalam
Menumbuhkan Kesadaran Mengentaskan Kemiskinan” adalah sebagai berikut:
- Menumbuhkan kesadaran masyarakat
Indonesia yang mampu dalam hal materi agar ikut berperan serta untuk
mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
- Memberikan informasi kepada
masyarakat Indonesia untuk menghadapi kemiskinan yang merupakan tantangan
global dunia ketiga.
- Untuk mengetahui sejauh mana upaya
pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia.
D.
Manfaat
- Bagi Penulis
Penulisan
Ilmiah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata
kuliah Ilmu Sosial Dasar.
-
Bagi pihak lain
Penulisan
Ilmiah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan
permasalahan dan upaya penyelesaian kemiskinan.
E.
Ruang Lingkup
Dalam
penyusunan Penulisan Ilmiah ini penyusun mengambil sampel ruang lingkup berupa
masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
BAB
II
METODE
PENULISAN
A.
Objek Penulisan
Objek
penulisan dalam tugas terstruktur individu ini adalah pengertian dan
permasalahan utama akibat kemiskinan, aspek kebijaksanaannya dan upaya
penyelesaian yang telah dilakukan oleh pemerintah.
B.
Dasar Pemilihan Objek
Penulis
memilih Objek Penulisan ini adalah karena Kemiskinan merupakan permasalahan
kemanusiaan yang sangat kompleks. Selain itu, kemiskinan juga menjadi isu
sentral di belahan bumi manapun. Sebagai warga negara Indonesia, dalam
mengentaskan kemiskinan tidak hanya bertumpu pada bantuan pemerintah saja namun
di zaman globalisasi ini warga negara Indonesia dituntut untuk mempunyai
kualitas SDM yang unggul sehingga memungkinkan munculnya keunggulan individual
yang dapat memberikan sumbangan kepada kemakmuran individu dan masyarakat.
Terlebih lagi saya seorang mahasiswa yang dituntut untuk menyumbang sesuatu
kepada negara Indonesia. Lewat jalur pendidikan saya akan terus berkarya
sebagai seorang generasi muda berprestasi.
C.
Metode Pengumpulan Data
Dalam
pembuatan Penulisan Ilmiah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah
kaji pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan
yang diangkat dalam Penulisan Ilmiah ini yaitu masalah mengenai permasalahan
dan upaya penuntasan kemiskinan di Indonesia. Sebagai referensi juga diperoleh
dari media berbagai media informasi baik dari televisi, koran maupun situs web
internet yang membahas mengenai permasalahan dan upaya penuntasan kemiskinan di
Indonesia.
D.
Metode Analisis
Penyusunan
Penulisan Ilmiah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu
mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada, menganalisis
permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari
alternatif pemecahan masalah.
BAB
III
ANALISIS
PERMASALAHAN
A.
Pembahasan
Kemiskinan
sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara
yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan
Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun
1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa
itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang
sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya
belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan
terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas,
pengangguran. Berikut sedikit penjelasan mengenai kemiskinan yang sudah menjadi
dilema mengglobal yang sangat sulit dicari cara pemecahan terbaiknya.
Definisi
Dalam
kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang
ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan
sebagai orang yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu
bahwa kemiskinan sarat dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa
neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif
(ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
Seiring
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perkembangan arti definitif
dari pada kemiskinan adalah sebuah keniscayaan. Berawal dari sekedar
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan hingga
pengertian yang lebih luas yang memasukkan komponen-komponen sosial dan moral.
Misal, pendapat yang diutarakan oleh Ali Khomsan bahwa kemiskinan timbul oleh
karena minimnya penyediaan lapangan kerja di berbagai sektor, baik sektor
industri maupun pembangunan. Senada dengan pendapat di atas adalah bahwasanya
kemiskinan ditimbulkan oleh ketidakadilan faktor produksi, atau kemiskinan
adalah ketidakberdayaan masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh
pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi.
Arti definitif ini lebih dikenal dengan kemiskinan struktural.
Deskripsi
lain, arti definitif kemiskinan yang mulai bergeser misal pada awal tahun
1990-an definisi kemiskinan tidak hanya berdasarkan tingkat pendapatan, tapi
juga mencakup ketidakmampuan di bidang kesehatan, pendidikan dan perumahan. Di
penghujung abad 20-an telah muncul arti definitif terbaru, yaitu bahwa
kemiskinan juga mencakup kerentanan, ketidakberdayaan dan ketidakmampuan untuk
menyampaikan aspirasi.
Amerika
Serikat sebagai negara maju juga dihadapkan masalah kemiskinan, terutama pada
masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an Amerika
Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar
penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi
bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat
sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.
Kemiskinan
dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif
dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila
hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan,
pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di
atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat
sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau
sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya
sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Kesadaran
adalah sadar akan perbuatan. Sadar artinya merasa, tau atau ingat (kepada
keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali. Kesadaran
merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan
yang lain. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia
dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. Refleksi
merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau
bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang
dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia
dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia
yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tentang kesadaran
merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan
binatang. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan
bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas.
Manusia dengan dikaruniahi akal budi merupakan
mahluk hidup yang sadar dengan dirinya. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia
kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa
depannya. Manusia memiliki kesadaran akan dirinya sebagai entitas yang terpisah
serta memiliki kesadaran akan jangka hidup yang pendek, akan fakta ia
dilahirkan di luar kemauannya dan akan mati di luar keinginannya. Kesadaran
manusia ia akan mati mendahului orang-orang yang disayanginya, atau sebaliknya
bahwa yang ia cintai akan mendahuluimya , kesadaran akan kesendirian,
keterpisahan, akan kelelamahan dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat.
Semuanya kenyataan itu membuat keterpisahan manusia, eksistensi tak bersatunya
sebagai penjara yang tak terperikan. Manusia akan menjadi gila bila tak dapat
melepaskan diri dari penjara tersebut. (Erich Fromm, The Art of Love)
Kesadaran
menurut Sartre berifat itensional dan tidak dapat dipisahkan di dunia. Kesadaran
tidak sama dengan benda-benda. Kesadaran selalu terarah pada etre en sio
(ada-begitu-saja) atau berhadapan dengannya. Situasi dimana kesadaran
berhadapan oleh Sartre disebut etre pour soi (ada-bagi-dirinya). Bahwa
kesadaran saya akan sesuatu juga menyatakan adanya perbedaan antara saya dan
sesuatu itu. Saya tidak sama dengan sesuatu yang saya sadari ada jarak antara
saya dengan objek yang saya lihat. Misalkan entre pour soi menunjuk pada
manusia atau kesadaran. Manusia adalah eter pour soi sebab ia tidak persis
menjadi satu dengan dirinya sendiri. Tiadanya identitas manusia dengan dirinya
sendiri memungkinkan manusia untuk melampaui, untuk mengatasi dirinya dan
menghubungkan benda-benda dengan dirinya sesuai dengan yang dimaksud dan
tujuannya. Ketidak identikan manusia dengan dirinya sendiri tampak dalam
kesadaran yang ditandai oleh regativitas, penidakan. Negativitas menunjukan
bahwa terhadap etre pour soi atau kesadaran hanya dikatan it is not what it is.
Maka kesadaran disini merupakan non identitas, jarak, distansi. Kegiatan hakiki
kesadaran merupakan menindak, mengatakan tidak. Etre por soi tidak lain dari
pada menindak atau menampilkan ketiadaan. Kebebasan bagi Sartre merupakan
kesadaran menindak, dan manusia sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah
itu eksistensi itu mendahului esensi, sebab manusia selalu berhadapan dengan
kemungkinan untuk mengatakan tidak. Selama manusia masih hidup ia bebas untuk
mengatakan tidak, baru setelah kematian maka cirri-ciri hidupnya dapat
dibeberkan. (Alex Lanur, Pengantar dalam “Kata-Kata”)
Kesadaran
sebagai keadaan sadar, bukan merupakan keadaan yang pasif melainkan suatu
proses aktif yang terdiri dari dua hal hakiki; diferensiasi dan integrasi.
Meskipun secara kronologis perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga
tahap; sensansi (pengindraan), perrseptual (pemahaman), dan konseptual
(pengertian). Secara epistemology dasar dari segala pengetahuan manusia tahap
perseptual. Sensasi tidak begitu saja disimpan di dalam ingatan manusia, dan
manusia tidak mengalami sensasi murni yang terisolasi. Sejauh yang dapat
diketahui pengalaman indrawi seorang bayi merupakan kekacauan yang tidak
terdeferensiasikan. Kesadaran yang terdiskreminasi pada tingkatan persep.
Persep merupakan sekelompok sensasi yang secara otomatis terimpandan
dintegrasikan oleh otak dari suatu organisme yang hidup. Dalam bentuk persep
inilah, manusia memahami fakta dan memahami realitas. Persep buka sensasi,
merupakan yang tersajikan yang tertentu (the given) yang jelas pada dirinya sendiri
(the self evidence). Pengetahuan tentang sensasi sebagai bagian komponen dari
persep tidak langsung diperoleh manusia jauh kemudian, merupakan penemuan
ilmiah, penemuan konseptual.
Pengertian
teknologi secara umum :
-
proses yang meningkatkan nilai tambah
-
produk yang digunakan dan dihasilkan untuk
memudahkan dan meningkatkan kinerja
-
Struktur atau sistem di mana proses dan
produk itu dikembamngkan dan digunakan
Kemajuan
teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini,
karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu
pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi
kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam
melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah
menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan
dalam dekade terakhir ini. Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan
untuk menghasilkan manfaat positif, di sisi lain juga juga memungkinkan
digunakan untuk hal negatif.
Manfaat
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Teknologi
Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak
langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Beberapa penerapan dari Teknologi Informasi
dan Komunikasi antara lain :
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perusahaan
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan
efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu
menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja.
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Bisnis
Dalam
dunia bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan
secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah
perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perbankan
Dalam
dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya
transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking.
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Teknologi
Pembelajaran
terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan
pembelajaran sehari-hari Makalah Teknologi Informasi dan Komunikasi sering
dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet.
Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya
interaksi antara dua orang atau lebih.
Penerapan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan
Sistem
berbasis kartu cerdas (smart card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui
riwayat penyakit pasien yang datang ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut
para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien.
Indikator-indikator
Kemiskinan
Untuk
menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail
indikator-indikator kemiskinan tersebut. Adapun indikator-indikator kemiskinan
sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagi berikut:
1. Ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2. Tidak
adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan,
sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Tidak
adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan
keluarga).
4. Kerentanan
terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya
kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya
apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak
adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan
untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan
dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan
rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).
Penyebab
Kemiskinan
Di
bawah ini beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat Karimah Kuraiyyim. Yang
antara lain adalah:
a. Merosotnya
standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang
penting digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita
bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau
produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik.
Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan
per-kapita akan turun beriringan.
Berikut
beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan
per-kapita:
a) Naiknya
standar perkembangan suatu daerah.
b) Politik
ekonomi yang tidak sehat.
c) Faktor-faktor
luar negeri, diantaranya:
-
Rusaknya syarat-syarat perdagangan
-
Beban hutang
-
Kurangnya bantuan luar negeri, dan
-
Perang
b. Menurunnya
etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat
jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh
karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus
didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan
yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal.
c. Biaya
kehidupan yang tinggi.
Melonjak
tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak
adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah
konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena
kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan
banyaknya pengangguran.
d. Pembagian
subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal
ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan
untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan
warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
Perkembangan
Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Bagaimana
perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia? Program Pembangunan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan laporan tahunan Pembangunan manusia (Human
Development Report) 2006 yang bertajuk Beyord scarcity; power, poverty dan the
global water. Laporan ini menjadi rujukan perencanaan pembangunan dan menjadi
salah satu Indikator kegagalan atau keberhasilan sebuah negara menyejahterakan
rakyatnya. Selama satu dekade ini Indonesia berada pada Tier Medium Human
Development peringkat ke 110, terburuk di Asia Tenggara setelah Kamboja.
Jumlah
kemiskinan dan persentase penduduk miskin selalu berfluktuasi dari tahun ke
tahun, meskipun ada kecenderungan menurun pada salah satu periode (2000-2005).
Pada periode 1996-1999 penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta, yaitu dari
34,01 juta(17,47%) menjadi 47,97 juta (23,43%) pada tahun 1999. Kembali cerah ketika
periode 1999-2002, penduduk miskin menurun 9,57 juta yaitu dari 47,97 (23,43%)
menurun menjadi 38,48 juta (18,20%). Keadaan ini terulang ketika periode
berikutnya (2002-2005) yaitu penurunan penduduk miskin hingga 35,10 juta pada
tahun 2005 dengan presentasi menurun dari 18,20% menjadi 15,97 %. Sedangkan
pada tahun 2006 penduduk miskin bertambah dari 35,10 juta (15,97%) menjadi
39,05 juta (17,75%) berarti penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta
(1,78%).
Adapun
laporan terakhir, Badan Pusat Statistika ( BPS ) yang telah melaksanakan Survei
Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada bulan Maret 2007 angka resmi jumlah
masyarakat miskin adalah 39,1 juta orang dengan kisaran konsumsi kalori 2100
kilo kalori (kkal) atau garis kemiskinan ketika pendapatan kurang dari Rp
152.847 per-kapita per bulan.
Tantangan
Kemiskinan di Indonesia
Masalah
kemiskinan di Indonesia sarat sekali hubungannya dengan rendahnya tingkat
Sumber Daya Manusia (SDM). dibuktikan oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat
Indonesia meskipun kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Sebagaimana yang
ditunjukkan oleh rendahnya Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Indonesia pada
tahun 2002 sebesar 0,692. yang masih menempati peringkat lebih rendah dari
Malaysia dan Thailand di antara negara-negara ASEAN. Sementara, Indeks
Kemiskinan Manusia (IKM) Indonesia pada tahun yang sama sebesar 0,178. masih
lebih tinggi dari Filipina dan Thailand. Selain itu, kesenjangan gender di
Indonesia masih relatif lebih besar dibanding negara ASEAN lainnya.
Tantangan
lainnya adalah kesenjangan antara desa dan kota. Proporsi penduduk miskin di
pedesaan relatif lebih tinggi dibanding perkotaan. Data Susenas (National
Social Ekonomi Survey) 2004 menunjukkan bahwa sekitar 69,0 % penduduk Indonesia
termasuk penduduk miskin yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian.
Selain itu juga tantangan yang sangat memilukan adalah kemiskinan di alami oleh
kaum perempuan yang ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peranan
wanita, terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih
rendahnya angka pembangunan gender (Gender-related Development Indeks, GDI) dan
angka Indeks pemberdayaan Gender(Gender Empowerment Measurement,GEM).
Tantangan
selanjutnya adalah otonomi daerah, di mana hal ini mempunyai peran yang sangat
signifikan untuk mengentaskan atau menjerumuskan masyarakat dari kemiskinan.
Sebab ketika meningkatnya peran keikutsertaan pemerintah daerah dalam
penanggulangan kemiskinan. maka tidak mustahil dalam jangka waktu yang relatif
singkat kita akan bisa mengentaskan masyarakat dari kemiskinan pada skala
nasional terutama dalam mendekatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. Akan
tetapi ketika pemerintah daerah kurang peka terhadap keadaan lingkungan
sekitar, hal ini sangat berpotensi sekali untuk membawa masyarakat ke jurang
kemiskinan, serta bisa menimbulkan bahaya laten dalam skala Nasional.
Kebijakan
dan Program Penuntasan Kemiskinan
Upaya
penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan
penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan
nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian,
lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.
Sebagai
wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan
pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah
disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders
pembangunan di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota
telah membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama
penanggulangan kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam
mengatasi kemiskinan.
Adapun
langkah jangka pendek yang diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
a) Mengurangi
kesenjangan antar daerah dengan;
i.
penyediaan sarana-sarana irigasi, air
bersih dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih.
ii.
pembangunan jalan, jembatan, dan dermaga
daerah-daerah tertinggal.
iii.
redistribusi sumber dana kepada
daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus
(DAK) .
b) Perluasan
kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk
modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan
revitalisasi industri.
c) Khusus
untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara
lain :
i.
pendidikan gratis sebagai penuntasan
program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi murid yang kurang mampu
ii.
jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi
penduduk miskin di puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.
Di
bawah ini merupakan contoh dari upaya mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Contoh
dari upaya kemiskinan adalah di propinsi Jawa Barat tepatnya di Bandung dengan
diadakannya Bandung Peduli yang dibentuk pada tanggal 23 – 25 Februari 1998.
Bandung Peduli adalah gerakan kemanusiaan yang memfokuskan kegiatannya pada
upaya menolong orang kelaparan, dan mengentaskan orang-orang yang berada di
bawah garis kemiskinan. Dalam melakukan kegiatan, Bandung Peduli berpegang
teguh pada wawasan kemanusiaan, tanpa mengindahkan perbedaan suku, ras, agama,
kepercayaan, ataupun haluan politik.
Oleh
karena sumbangan dari para dermawan tidak terlalu besar bila dibandingkan
dengan permasalahan kelaparan dan kemiskinan yang dihadapi, maka Bandung Peduli
melakukan targetting dengan sasaran bahwa orang yang dibantu tinggal di
Kabupaten/ Kotamadya Bandung, dan mereka yang tergolong fakir. Golongan fakir
yang dimaksud adalah orang yang miskin sekali dan paling miskin bila diukur
dengan “Ekuivalen Nilai Tukar Beras”.
Peran
Ilmu Pengetahuan Teknologi Menumbuhkan Kesadaran Mengentaskan Kemiskinan
Telah dijelaskan diatas tentang
Ilmu Pengetahuan Teknologi, Kesadaran, dan juga Kemiskinan. Berarti kita telah
paham masing – masing pengertiannya dan maksudnya. Langkah selanjutnya adalah
membahas tentang penyelesaiannya.
Nyaris hampir setiap hari orang
menggunakan manfaat Teknologi, ini bisa dijadikan sumber pendapatan negara.
Misalnya saja, setiap barang yang masuk ke wilayah indonesia (Teknologi)
dikenai pajak. Karena sudah tentu teknologi tersebut dibandrol dengan harga
yang tinggi, khususnya bagi masyarakat kurang mampu. Pajak tersebut juga akan
tersalurkan untuk masyarakat miskin dalam membantu pemenuhan hidupnya.
Pemerintah tentunya mempunyai data kemiskinan bagi masyarakat miskin, dengan
itu upaya pemerintah melaksanakan kesejahteraan seluruh rakyat dapat
terealisasikan. Pemerintah bisa membangun sekolah gratis dari pendapatan pajak
tersebut. Dengan itu masyarakat miskin pun bisa menikmati teknologi terbaru di
sekolah gratis yang dibangun pemerintah.
Selain itu pemerintah juga
mengupayakan menumbuhkan kesadaran masyarakat miskin dengan upaya pendekatan,
agar masyarakat miskin mau mengikuti program pemerintah mengentaskan
kemiskinan. Dengan begitu usaha pemerintah membangun sekolah gratis yang di
dalamnya terdapat Ilmu Pengetahuan Teknologi tidak menghasilkan kekecewaan.
Dalam kehidupan perekonomian negara
Indonesia tidak terlepas dari peran usahawan. Tentu saja mereka menggunakan
teknologi dalam pekerjaanya. Dari sini kita bisa menggerakkan kesadaran mereka
untuk berbagi bersama dengan masyarakat miskin. Kesadaran merekalah yang
nantinya mengubah pandangan masyarakat miskin bahwa mereka juga diperhatikan.
Misalnya, lewat berita bisnis kita selipkan artikel tentang berita masyarakat
miskin, bisa juga bebagi sedikit upah kerja untuk disumbangkan ke masyarakat
miskin melalui bank yang dikelola pemerintah, selain itu bisa diselipkan
seminar tentang masyarakat miskin yang mana menjadikan keakraban semakin
terjalin antara masyarakat miskin dengan mereka yang hidup berkecukupan.
Dengan memaparkan pendidikan agama
lewat internet (seperti ceramah di you tube, artikel tentang kesadaran terhadap
sesama) maka setiap pasang mata yang melihat akan menyadari dan mengubah jalan
hidupnya sesuai tuntunan agama tentang kepedulian terhadap sesama.
Teknologi tidak hanya berpengaruh
terhadap kehidupan perekonomian, juga terhadap kesehatan. Dari sini masyarakat
miskin pun bisa mendapatkan manfaat lewat balai pengobatan yang disediakan
pemerintah, khususnya bagi masyarakat tidak mampu, sebagai contoh misalnya saja
puskesmas. Dengan begitu masyarakat miskin pun tidak gagap teknologi. Mereka
juga bisa menikmati manfaat teknologi seperti masyarakat kelas atas.
Benar sekali bahwa kehidupan
masyarakat miskin sangatlah sulit untuk dipenuhi, namun pemerintah pun tidak
memalingkan pandangannya. Melalui internet kita bisa menumbuhkan kesadaran
bersama seperti yang saya jelaskan diatas. Dari hasil tersebut sepenuhnya untuk
masyarakat miskin, dengan begitu beban masyarakat miskin pun sedikit berkurang.
Lewat pendekatan dengan masyarakat miskin yang mengupayakan untuk kesadaran
tentang masa depan yang lebih baik, mereka akan memanfaatkan bantuan dari
sesama dan program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan begitu 2
hal ini menunjukkan keadaan yang seimbang. Dimana ada yang memberi dan
penerima. Tentu saja hal ini bisa terwujud dengan lancar apabila tiada kendala,
namun bila kita mempunyai tujuan baik, semoga
Tuhan
memberikan hasil yang baik pula. Karena pada dasarnya ini adalah kepentingan
bersama.
B.
Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan
latar belakang, perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Masalah
dasar pengentasan kemiskinan bermula dari sikap kesadaran kita terhadap
kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam
artian bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka
kebutuhan pun akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan
hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa
penyakit sosial ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan
masyarakat. Ketika terjalin kerja sama yang romantis baik dari pemerintah,
nonpemerintah dan semua lini masyarakat. Dengan digalakkannya hal ini, tidak
perlu sampai 2030 kemiskinan akan mencapai hasil yang seminimal mungkin.
2. Saran
Dalam
menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif,
inovatif, dan eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih
eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau
dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas,
dan moralitas yang standarnya adalah standar global.
DAFTAR
PUSTAKA
www.pu.go.id/publik/p2kp/des/memahami99.html
www.geocities.com/rainforest/canopy/8087/miskin.html
http://fosmake.blogspot.com/20/07/08/kemiskinan-25.html
http://lasonearth.wordpress.com/makalah/makalah-kewarganegaraan-kemiskinan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadaran